Cinta menuju jalan Ilahi
Cinta hakiki yang amat suci
Tenang terasa rindu kepadaNya
Bila mendapat siraman hidayah
Insan bertasbih berzikir dengan makrifah
Taubat menyusul memohon maaf padaNya
Menyesali..menyesal..menyesal atas dosa-dosa
Jiwa insani hidup bernadi
Tulus sejernih embun syurgawi
Saat melakar cinta sejati
Allah disembah sering diingati
Rela diuji asalkan kasih bersemi
Biarlah derita pengubat kasih sayangNya
Itulah tajalli..cintakan Allah
Mahabbah..Mahabbah..Mahabbatullah
Kesunyian jiwa..kegersangan iman
Kehilangan bahagia sesat di persimpangan
Pengajaran bayangan siksa dunia
Kembali..kembali..kembalilah pada Allah
Carilah..carilah..carilah..cintaNya
Rela diuji asalkan kasih bersemi
Biarlah derita pengubat kasih sayangNya
Itulah tajalli..cintakan Allah
Mahabbah..Mahabbah..Mahabbatullah
Mahabbatullah (Mencintai Allah)
Kecintaan kepada Allah sebagai dasar untuk menjadikan amal yang saleh dan ibadah yang shahih. Amal tanpa didasari cinta akan merosakkan amal yang dikerjakannya, tetapi sebaliknya apabila amal berdasarkan cinta akan menghasilkan amal saleh yang akan dihayati dengan mendalam. Ibadah kepada Allah perlu didasari kecintaan. Cinta kepada Allah maka akan rela dan ikhlas melaksanakan semua perintahNya. Bahkan dengan cinta, rela mengorbankan jiwa dan harta untuk mengikuti perintah yang kita cintai.
Cinta akan mempengaruhi kehidupan seseorang, baik cinta kepada Allah atau bukan kepada Allah. Cinta bukan kepada Allah sering membawa kepada cinta buta yang tidak dapat dikendalikan sedangkan cinta kepada Allah akan membawa kepada kedamaian dan ketenangan. Cinta kepada makhluk membawa kepada ketidakpastian, penasaran dan kesenangan semu. Cinta kepada sesuatu benda akan hapus apabila benda tersebut hilang atau rosak, manakala cinta kepada Allah kekal dan abadi. Cinta kepada seseorang membawa kepada kehanyutan perasaan yang terkadang membawa kita emosional, manakala cinta kepada Allah akan membawa ketenteraman jiwa. Kita dibolehkan cinta kepada manusia (kepada orang tua, anak, isteri, dan keluarga) atau benda asalkan di bawah darjat kecintaan kepada Allah:
Katakanlah, "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdaganan yang kamu khuatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya serta berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusannya" dan Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang yang fasik. (9:24)
Cinta yang bukan kepada Allah biasanya didasari oleh syahwat dan cinta kepada Allah didasari oleh iman. Syahwat akan mengendalikan diri kita dan bahkan kita memperturutkan syahwat yang dapat membahayakan diri kita. Manakala iman akan membawa kebaikan. Cinta memiliki beberapa ciri di antaranya adalah selalu ingat, mengagumi, rela, siap berkorban, takut, mengharap dan mentaati.
Cinta akan mempengaruhi kehidupan seseorang, baik cinta kepada Allah atau bukan kepada Allah. Cinta bukan kepada Allah sering membawa kepada cinta buta yang tidak dapat dikendalikan sedangkan cinta kepada Allah akan membawa kepada kedamaian dan ketenangan. Cinta kepada makhluk membawa kepada ketidakpastian, penasaran dan kesenangan semu. Cinta kepada sesuatu benda akan hapus apabila benda tersebut hilang atau rosak, manakala cinta kepada Allah kekal dan abadi. Cinta kepada seseorang membawa kepada kehanyutan perasaan yang terkadang membawa kita emosional, manakala cinta kepada Allah akan membawa ketenteraman jiwa. Kita dibolehkan cinta kepada manusia (kepada orang tua, anak, isteri, dan keluarga) atau benda asalkan di bawah darjat kecintaan kepada Allah:
Katakanlah, "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdaganan yang kamu khuatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya serta berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusannya" dan Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang yang fasik. (9:24)
Cinta yang bukan kepada Allah biasanya didasari oleh syahwat dan cinta kepada Allah didasari oleh iman. Syahwat akan mengendalikan diri kita dan bahkan kita memperturutkan syahwat yang dapat membahayakan diri kita. Manakala iman akan membawa kebaikan. Cinta memiliki beberapa ciri di antaranya adalah selalu ingat, mengagumi, rela, siap berkorban, takut, mengharap dan mentaati.
MAHABBATULLAH
Dalam pengembaraan hidup manusia di permukaan bumi ini, kadang'' bertualang mencari kebahagiaan dan kenikmatan menurut idenya masing''. Ada yg beranggapan, sentrum kebahagiaan terdapat pada materi yg berlimpah ruah. Maka berusahalah dia menumpuk harta sebanyak''nya. Ada yg beranggapan, kebahagiaan itu berpusat pada kekuasaan ( Tahta ). Maka berjuanglah dia memperoleh kekuasaan yg diinginkannya. ada pula yg beranggapan, sentrum lenilmatan itu terdapat pada cinta kasih Dua sejoli yg memadu janji. Maka berusahalah dia mencari kepuasannya.Tetapi ada pula yg memilih jalannya sendiri, kebahagiaan hakiki tidak pada materi, tidak pada pangkat dan juga tidak pada kenikmatan cinta buta yg taat pada syahwat nan birahi, melainkan pada kekayaan rohaniah, dengan memilih jalan Allah, jalan iman dan Taqwa yg diajarkanNya dalam kitab suciNya, dengan pengertian mempokuskan seluruh rasa cinta pada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Cinta menurut ibnu Qoyim, mengharuskan seseorang yg sedang tyerpanah olehnya untuk mengkhususkan cintanya kepada yg ia cintai. Juga hendaknya ia tidak menyekutukan cintanya terhadap kekasihnya dengan yg lain. Kata Ibnu Qoyim, " "Seseorang tidak bisa membagi-bagi cintanya secara adil." Prinsip ketunggalan cinta ini diterapkan oleh Ibnu Qayyim, hanya kecintaan kepada Allah semata. Ucapannya dalam hal ini. " Dalam Qolbu seseorang tidak mungkin terdapat Dua cinta. Demikian halnya dilangitpun tidak terdapat Dua tuhan." Ketunggalan cinta atau Mahabbatullah, bukanlah sembarang cinta, melainkan cinta yang menempati kedudukan yg tertinggi di atas segala cinta.
Menurut Ibnu Taimiyah dalam kitab Fatawa bagian Ilmu Suluk". MAHABBATULLAH adalah sebesar besar kewajiban Iman, sebesar besar pokok dan setinggi tinggi azas. Bahkan dia merupakan pokok dari segala amal dari amal-amal Iman dan keagamaan. Seperti halnya pengakuan akan ke Esaan Allah adalah pokok dari segala perkataan yg berkaitan dengan Iman dan Agama. Justru setiap gerakan pada wujudnya adalah memancar dari MAHABBAH kepada Nya. Pada pokoknya seluruh amal'' iman tidaklah terbit selain pada MAHABBAH yang terpuji. MAHABBATULLAH, cinta kepada Allah. Dan ini merupakan ciri yg hanya dimiliki oleh orang'' yg beriman.
Firman Allah Swt : "Walladziina aa manuu asaddu hubban lillahi". " Dan orang'' yg beriman itu terlebih cinta kepada Allah". ( Al Baqoroh : 165 )




No comments:
Post a Comment